Teknik - Universitas Katolik Atma Jaya

INFORMASI FAKULTAS

Nama Universitas : Universitas Katolik Atma Jaya
Nama Fakultas : Teknik
Alamat Sekretariat : Jl. Jenderal Sudirman 51, Jakarta
Kode Pos : 12930
Telp : (62-21) 5727615    Telp2 : 5703306, 5708823
Fax : (62-21) 5747912    Fax2 :
Email : ft@atmajaya.ac.id
Website : http://www.atmajaya.ac.id/
Nama Dekan : Prof. Hadi Sutanto, MMAE., Ph.D.

OUR ADVERTISING


PENGETAHUAN

Deskripsi Universitas Katolik Indonesia (Unika) Atma Jaya pada waktu didirikan hanya mempunyai fakultas sosial. Sebagai universitas hal ini kurang memenuhi syarat. Pemerintah menentukan suatu universitas harus mepunyai fakultas sosial dan eksakta. Supaya memenuhi syarat sebagai universitas, Unika Atma Jaya membuka Fakultas Teknologi dengan jurusan Teknik Mesin.
Berbicara tentang Fakultas Teknologi tidak bisa lepas dari nama Ir.J.P. Cho dan Ir. Bian Tamin (Tan Bian Seng). Kedua tokoh ini adalah pendiri Fakultas Teknologi. Ir.J.P. Cho memperoleh gelarnya dari Technishe Hogeschool Delft di negeri Belanda pada tahun 1955. Ia adalah insinyur mesin. Pada waktu menjadi mahasiswa di negeri Belanda ia aktif dalam IMKI (Ikatan Mahasiswa Katolik Indonesia), dan berkawan baik dengan Drs. Frans Seda dan Ir. Bian Tamin. Diakui oleh Ir. J.P. Cho bahwa pada waktu masih di negeri Belanda ia belum mempunyai keinginan untuk terjun ke bidang pendidikan. Ia ingin membangun teknik industri yang pada waktu itu belum maju. Ir. J.P. Cho kembali ke Indonesia tahun 1955. Melihat keadaan Indonesia khususnya sangat kekurangan tenaga ahli teknik, ia berubah pikiran dan mengalihkan perhatiannya ke bidang pendidikan. Dengan terjun ke bidang pendidikan ia berharap dapat membantu menelorkan sarjana teknik yang sangat dibutuhkan.
Sesudah tiga bulan di Indonesia, ia mulai karirnya dengan mengajar di Akademi Teknik Nasional sampai tahun 1960. Selama mengajar di Akademi Teknik Nasional ia selalu didekati oleh Frans Seda untuk diajak bersama-sama mendirikan Unika Atma Jaya. Kemudian ia bersedia pindah ke Unika Atma Jaya. Menurut Ir. J.P. Cho, motivasi ia terjun ke pendidikan dan ikut serta mendirikan Unika Atma Jaya adalah karena ingin mendharmabaktikan ilmunya untuk gereja, bangsa dan negara. Kiprahnya tidak sampai di sini. Satu tahun sesudah Unika Atma Jaya berdiri, ia bersama Ir. Bian Tamin mendirikan Fakultas Teknologi Unika Atma Jaya. Pada waktu Fakultas Teknologi dibuka di samping menjabat sebagai anggota yayasan ia juga menjabat sebagai Sekretaris Fakultas Teknologi dan dosen. Kemudian dalam periode 1968-1969 ia menjabat sebagai Dekan. Selama menjadi Dekan, sekalipun mengalami keterbatasan dana dan sarana, ia berusaha semaksimal mungkin membina Fakultas Teknologi dengan baik. Namun sesudah itu, Ir. J.P. Cho tidak lagi berkecimpung di Fakultas Teknologi. Ia ditarik yayasan untuk membantu karena tenaganya sangat diperlukan. Sejak tahun 1977 ia dipercaya sebagai Sekretaris Eksekutif purna waktu Yayasan Atma Jaya. Oleh karena jasanya yang besar dalam bidang pendidikan pada umumnya dan Unika Atma Jaya khususnya, pada tanggal 23 November 1989, Paus Yohannes Paulus II menganugerahkan bintang Sancto Silvester kepada Ir. J.P. Cho.
Telah disinggung di atas, selain Ir. J.P. Cho, pendiri Fakultas Teknologi yang lain adalah Ir. Bian Tamin. Ia lahir di Bukit Tinggi, Sumatera Barat. Pendidikan dasar sampai menengah diselesaikannya di Sumatera Barat. Untuk mencapai pendidikan yang lebih tinggi, ia hijrah ke Bandung untuk kuliah di Technishe Hogeschool – Scheikundige Afdeling (Jurusan Kimia). Ia kemudian ke negeri Belanda dan kuliah di Technishe Hogeschool Delft Afdeling: Scheikundige Technologie. Selama di negeri Belanda ia ikut mendirikan IMKI. Karena keaktifannya ia dipercayai untuk menduduki jabatan Ketua IMKI. Selain itu ia juga menjadi anggota Dewan Pimpinan PPI. Di antara para mahasiswa Indonesia yang berada di negeri Belanda, Bian Tamin yang paling senior. Namun demikian ia tidak merasa ragu untuk menggabungkan diri dengan kelompok mahasiswa yang lebih muda. Kegiatan-kegiatan diskusi diadakan, dan dalam forum ini, ia tidak hanya menyumbangkan pikiran-pikirannya pada masalah-masalah nasionalisme, integrasi pembangunan setelah kemerdekaan, namun juga masalah pendidikan yang ada di Indonesia. Perhatiannya di masalah pendidikan sangat besar. Oleh sebab itu tidaklah mengherankan sesudah kembali di Indonesia, ia ikut merintis berdirinya Unika Atma Jaya bersama dengan Drs. Frans Seda dan Ir. J.P. Cho.
Usahanya tidak berhenti hanya pada mendirikan Unika Atma Jaya tetapi juga bagaimana mengembangkannya supaya menjadi sebuah universitas yang besar di Indonesia. Satu tahun sesudah Unika Atma Jaya berdiri, bersama-sama dengan Ir. J.P. Cho, ia mendirikan Fakultas Teknologi yang memang pada waktu itu sangat dibutuhkan. Kemampuannya di bidang kepemimpinan tidak diragukan. Oleh sebab itu ia dipercayai untuk memegang jabatan Dekan Fakultas Teknologi pada masa awalnya, di samping menjabat sebagai Wakil Ketua III Yayasan Atma Jaya.
Fakultas Teknologi didirikan pada tanggal 1 Juli 1961. Pada saat itu Fakultas Teknologi hanya mempunyai Jurusan Teknik Mesin. Pada masa awal, pelaksanaan perkuliahan Fakultas Teknologi mengalami berbagai hambatan, seperti jumlah ruang kuliah, tenaga edukatif maupun tenaga administratif yang terbatas. Pada waktu itu ruang kuliah belum dimiliki, padahal hal ini merupakan salah satu sarana yang sangat penting untuk menunjang perkuliahan. Lalu di mana kuliah-kuliah itu dilaksanakan? Kuliah dilaksanakan secara berpindah-pindah dari satu tempat ke tempat yang lain: Gedung Pertemuan daya Murni di Jalan Lapangan Banteng Utara, Paroki St. Theresia, SMA St. Theresia di Jalan Theresia, Paroki Katedral dan SMA St. Ursula di Jalan Lapangan Banteng Utara, SMP van Lith di Jalan Gunung Sahari, Paroki Gereja Santo Yusuf di Jalan Matraman Raya dan SMA Kanisius di Jalan Menteng Raya.
Di samping hambatan tersebut ternyata Fakultas Teknologi juga menemui beberapa gangguan pada waktu kuliah sedang berlangsung misalnya: listrik dimatikan saat kuliah sedang berlangsung, pintu ruang dikunci sehingga dosen dan mahasiswa harus meloncat lewat jendela untuk bisa memasuki ruangan. Ada gangguan lain yang menyebabkan mahasiswa mengadakan demonstrasi. Menurut Bapak Anton Dyornay, hal itu disebabkan karena pada waktu mahasiswa akan kuliah, kursi-kursi itu telah dimasukkan ke gudang oleh pemilik gedung karena Unika Atma Jaya belum membayar sewa. Situasi pada waktu itu memang agak panas dan musim mahasiswa turun ke jalan untuk menanggapi suatu masalah. Rupanya musim itu juga menghinggapi mahasiswa Fakultas Teknologi Unika Atma Jaya meskipun tidak seradikal mahasiswa-mahasiswa dari universitas lain.
Hambatan lain yang dihadapi adalah kurangnya tenaga edukatif. Pada masa awal bahkan belum dipunyai tenaga edukatif purna waktu. Tenaga-tenaga yang ada adalah tenaga-tenaga edukatif penggal waktu/honorer dan kebanyakan dari mereka berasal dari Korps Angkatan Laut. Apakah Unika Atma Jaya mengadakan kerjasama dengan Angkatan Laut? Ternyata tidak, mereka mengajar di Fakultas Teknologi karena hubungan pribadi yang erat dengan Ir. J.P. Cho. Di antara mereka yang pernah memberi kuliah di Fakultas Teknologi Unika Atma Jaya antara lain adalah Perwira Dr. A.J. Suryadi, Dr. Parapat, Ir. Legiyono, Ir. Sugiyono Kadarisma, Ir. Ghandawinata, Ir. H.J. Kusumadiantho, Drs. Koeswono dan Dra. Saodah.
Di samping tenaga edukatif, tenaga administrasipun demikian. Karena terbatasnya tenaga administratif pada waktu itu, Fakultas Teknologi belum mempunyai administrasi sendiri, semuanya masih dipusatkan di sekretariat universitas yang berkantor di salah satu ruangan di Jalan Lapangan Banteng Utara. Mahasiswa rupanya sadar dan tanggap akan hal ini dan demi kemajuan bersama, mahasiswa membantu melaksanakan tugas-tugas administrasi seperti membuat presensi dosen, menyampaikan honorarium dosen, ikut membersihkan ruang kuliah dan menyiapkan penerangan serta alat tulis.
Untuk menunjang perkuliahan, sebuah laboratorium untuk praktikum mahasiswa sangat diperlukan. Akan tetapi fasilitas ini tidak dimiliki. Bagaimana caranya mengatasi masalah tersebut? Caranya adalah dengan mencari fasilitas praktikum di tempat lain yaitu di STM Budi Utomo, di bengkel PJKA Manggarai dan di ITB.
Jumlah mahasiswa, pada masa awal cukup menggembirakan tercatat ada 72 mahasiswa. Jumlah ini dari tahun ke tahun terus meningkat, meskipun beberapa kali terjadi penurunan, suatu hal yang umum untuk suatu PTS. Pada tahun 1989 tercatat 394 mahasiswa Jurusan Teknik Mesin. Mayoritas mahasiswa yang mengikuti kuliah adalah laki-laki. Rupa-rupanya kaum wanita kurang tertarik untuk menekuni bidang teknik karena mungkin bidang tersebut bukan bidangnya. Meskipun demikian bukan berarti tidak ada kaum wanita yang menekuni bidang tersebut. Ada beberapa mahasiswi yang kuliah di Fakultas Teknologi, tetapi jumlahnya bisa dihitung dengan jari.
Bagaimana perkembangan Fakultas Teknologi dari tahun ke tahun? Nama Fakultas Teknologi pada tahun 1985 diubah menjadi Fakultas Teknik (untuk seterusnya disingkat FT) berdasarkan surat keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan. Telah disinggung di atas bahwa pada awalnya, karena tidak mempunyai ruang kuliah sendiri, tempat perkuliahan selalu pindah-pindah. Sejak tahun 1967, FT melaksanakan perkuliahan di kampus kompleks Jalan Jenderal Sudirman di suatu bangunan semi permanen tanpa penerangan listrik.
FT merupakan fakultas pertama yang menempati kampus di Jalan Jenderal Sudirman. Para mahasiswa ikut terlibat dalam proses pembangunan gedung semi permanen tersebut selama berhari-hari. Karena jumlah mahasiswa FT dari tahun ke tahun semakin meningkat, apalagi setelah dibukanya Jurusan Teknik Elektro, kebutuhan akan ruang juga ikut meningkat. Oleh sebab itu pada tahun 1980 sebagian dari bangunan lama semi permanen dirobohkan dan diganti dengan bangunan baru tiga lantai yang sekarang disebut gedung K1.
Apakah pada waktu memasuki kampus di kompleks Jalan Jenderal Sudirman mahasiswa tidak mengalami kesulitan? Menurut Anton Dyornay kesulitan itu ada, meskipun tidak besar. Pada waktu masuk di kompleks Jalan Jenderal Sudirman di situ ada Rumah Sakit Jakarta, Asrama Perawat dan Akademi Pertamanan. Pernah terjadi pada waktu mahasiswa mau memasuki kampus, mereka dihadang oleh mahasiswa Akademi Pertamanan. Hal ini menimbulkan kemarahan, sehingga terjadi suatu insiden kecil. Dalam insiden ini mahasiswa FT memasukkan penghadang ke dalam kolam yang ada di dalam kampus. Tidak hanya itu, ada kejadian lain yaitu dikuncinya pintu gerbang, sehingga mahasiswa tidak bisa masuk. Kejadian-kejadian seperti tersebut di atas dapat diatasi dan untuk selanjutnya mahasiswa FT dapat masuk kampus dan mengikuti kuliah dengan tenang.
FT telah memiliki tempat kuliah yang tetap, yaitu di kampus kompleks Jalan Jenderal Sudirman. Namun demikian tidak berarti bahwa fasilitas perkuliahan sudah lengkap. Pernah ruang kuliah yang akan dipakai kosong, karena tidak ada meja dan kursi. Laboratoriumnya juga belum punya dan masih memakai laboratorium di STM Budi Utomo, PJKA Manggarai dan Bengkel ITB. Keadaan seperti ini tidak membuat mahasiswa dan dosen patah semangat, mereka terus giat mengajar dan menimba ilmu. Dalam perkembangannya, mengingat pentingnya laboratorium untuk menambah keterampilan mahasiswa, sedikit demi sedikit sarana akademis tersebut dilengkapi. Sampai tahun 1985, FT telah memiliki laboratorium Fisika, Teknologi Mekanik, Studio Gambar Mesin, Laboratorium Pengujian Mesin dan Laboratorium Elektronika dan Telekomunikasi. Ini merupakan suatu kemajuan yang luar biasa.
Bagaimana dengan status FT? Dalam mendapatkan status FT memerlukan waktu yang cukup lama. Jurusan Mesin tingkat Sarjana dan Sarjana Muda pada awalnya masih terdaftar dengan Surat Keputusan Menteri PTIP No. 17/B-Swt/P/62 tanggal 30 Oktober 1962. Kemudian diadakan pendekatan dengan FT UI untuk pembentukan Tim Evaluasi dan Supervisi. Baru pada tanggal 27 Juli 1985 Jurusan Mesin mendapat status diakui dengan Surat Keputusan No. 0332/0/1985. Hal ini disebabkan beberapa faktor antara lain karena tidak seimbangnya jumlah mahasiswa yang masuk dengan mahasiswa yang lulus. Arus kelulusan yang seret ini juga disebabkan karena kurangnya tenaga edukatif, baik yang purna waktu maupun yang senior. Menurut Ir. Rumeili, kurangnya tenaga edukatif ini mengakibatkan adanya beberapa mata kuliah yang belum bisa diberikan sehingga mahasiswa harus menunggu sampai waktu yang tidak tentu. Ini tentu saja menghambat kelulusan dan tidaklah mengherankan apabila baru pada tahun 1971 FT baru dapat meluluskan mahasiswanya, yaitu sesudah sepuluh tahun berdiri. Jumlah yang lulus pada waktu itu sedikit, yaitu empat orang. Kekurangan tenaga edukatif itu disebabkan karena sulitnya memperoleh mereka. Pada waktu itu belum banyak orang yang memiliki keahlian di bidang teknik. Dari jumlah yang kecil itu tidak semuanya mau menjadi dosen, antara lain karena imbalannya tidak sesuai dengan keahliannya. Mereka lebih senang bekerja di industri atau perusahaan lain karena imbalannya lebih besar. Faktor lain yang menghambat adalah diberlakukannya sistem kenaikan tingkat dengan persyaratan yang begitu banyak untuk bisa mengikuti ujian negara. Di samping itu ada faktor lain yaitu kurangnya penelitian yang dilakukan oleh tenaga edukatif dan fungsi pengabdian pada masyarakat yang kurang dilaksanakan. Itulah beberapa faktor yang menghambat FT dalam mendapatkan statusnya.
Dahulu masalah status tidak begitu dipersoalkan, sebab yang penting adalah pengakuan dari masyarakat dan itu telah didapatkan. Akan tetapi keadaan ini tidak berlangsung lama, karena masyarakat telah mulai merubah pandangannya, yaitu menginginkan status yang lebih jelas. Demikian pula halnya dengan pemerintah. Melihat munculnya PTS yang cukup banyak jumlahnya, pemerintah menganggap perlu untuk menerapkan peraturan-peraturan untuk PTS. Salah satunya adalah masalah akreditasi. Mengingat tuntutan dari masyarakat dan pemerintah, FT berusaha sekuat tenaga untuk mendapatkan status. Hal ini juga dimaksudkan untuk mencegah larinya peminat ke perguruan tinggi lainnya. Usaha-usaha yang ditempuh antara lain adalah meningkatkan jumlah dosen purna waktu dan meningkatkan kualitasnya dengan memberikan kesempatan untuk studi lanjut. Sampai saat itu FT telah memiliki 34 dosen tetap purna waktu, meskipun sulit untuk mendapatkannya. Usaha lain adalah mengaktifkan kegiatan penelitan dan pengabdian kepada masyarakat, melengkapi sarana akademik seperti laboratorium dan melancarkan arus kelulusan mahasiswa.
Pada akhir dasawarsa tujuhpuluhan pembangunan di bidang tenaga listrik dan pemanfaatan alat-alat elektronik begitu maju di Indonesia. Hal ini perlu diimbangi dengan menyediakan tenaga-tenaga di bidang tersebut. FT tanggap akan hal ini, dan dalam rangka pengembangan fakultas maka pada tanggal 1 Juni 1979 dibuka Jurusan Teknik Elektro. Pembukaan jurusan ini sebenarnya sudah dipikirkan dan mulai dirintis sejak tahun 1969 oleh pimpinan fakultas pada waktu itu, dan diharapkan dapat memberikan sumbangan yang berarti kepada masyarakat umum maupun pemerintah. Dan hal ini sesuai dengan Rencana Induk Pengembangan Lima Tahun Atma Jaya tahun 1976-1981, yang antara lain memuat rencana untuk membuka satu jurusan lagi pada Fakultas Teknik, yaitu Jurusan Listrik (Elektro). Pembukaan jurusan baru ini disamping alasan tersebut diatas, juga dimaksudkan untuk menunjang Jurusan Teknik Mesin dan diharapkan dalam perkembangan nati akan menuju Jurusan Teknologi Industri yang memang sangat dibutuhkan.
Siapa pengelola Jurusan Teknik Elektro pada masa awalnya? Untuk mengelola Jurusan Teknik Elektro dibentuk sebuah tim yang akan bekerja selama dua angkatan. Tim ini terdiri dari lima orang anggota yaitu Dipl. Ing. Nakoela Soenarta, Ir. Legiyono, Ir. Bambang Wirawan, Ir. Masgunarto Budiman dan Ir. M.J. Djokosetyardjo. Ketua Jurusan Teknik Elektro sementara dijabat oleh Dipl. Ing. Nakoela Soenarto.
Jumlah peminat cukup banyak, tetapi mayoritas yang mengikuti kuliah adalah laki-laki. Hal ini tidak saja dirasakan oleh FT Unika Atma Jaya saja tetapi FT dari universitas lainpun mengalami hal yang sama.
Jurusan Teknik Elektro mendapatkan status “Terdaftar” pada masa awalnya. Pada tahun 1988, Jurusan Teknik Elektro mendapat status “Diakui”, dengan Surat Keputusan, No. 646/0/1988. Tidak seperti Jurusan Teknik Mesin, Jurusan Teknik Elektro yang lahir lebih muda dalam keadaan masyarakat yang mulai menuntut status, dalam perkembangannya tidak mengalami hambatan sebesar yang dialami Jurusan Teknik Mesin. Hambatan pokok yang ditemui adalah sulitnya mendapatkan tenaga edukatif purnawaktu. Hal ini bisa diatasi dengan menggunakan dosen tidak tetap/penggal waktu/honorer semaksimal mungkin. Namun demikian usaha untuk pengadaan tenaga edukatif purna waktu selalu diupayakan.
Jumlah mahasiswa FT Jurusan Teknik Elektro meningkat dari tahun ke tahun. Mahasiswa angkatan pertama berjumlah 69 orang. Tiga tahun kemudian jumlah menjadi 241 orang dan pada tahun 1989 terjadi penurunan. Lulusan pertama pada tahun 1985 sebanyak 3 orang dari jumlah mahasiswa 289 orang, pada tahun 1987 diluluskan 22 orang dengan jumlah mahasiswa 341 orang, tahun 1988 diluluskan 81 orang dengan jumlah mahasiswa 380 orang dan pada tahun 1989 diluluskan 35 orang dengan jumlah mahasiswa 433 orang. Ini merupakan peningkatan yang sangat menggembirakan.
Jurusan Teknik Industri dibuka mulai tahun akademik 1999/2000 dengan SK Dirjen Dikti nomor 49/DIKTI/Kep/1999 tanggal 3 Maret 1999 dengan status “Terdaftar”. Pembukaan Jurusan Teknik Industri ini seakan melengkapi cita-cita almarhun Ir. J.P. Cho dan Ir. Bian Tamin pada awal pendirian Fakultas Teknik yaitu memajukan teknik industri di negara Indonesia tercinta.
Laboratorium yang diperlukan sebagian telah ada di Jurusan Teknik Mesin(misal: lab. Gambar Teknik, lab. Fisika Dasar, lab. Sistem Produksi). Laboratorium yang lebih spesifik untuk jurusan Teknik Industri, satu persatu dibangun. Pertama, telah dibangun Laboratorium Statistik dan Penunjang Keputusan dan sedang dibangun Laboratorium Perancangan Sistem Kerja dan Ergonomi. Jurusan ini mendapat animo cukup baik dari masyarakat.
Visi Menjadi fakultas teknik yang memiliki keunggulan akademik dan profesionalisme, dalam bidang pendidikan teknik, yang secara konsisten mewujudkan perpaduan antara teknologi dan iman Kristiani, dalam menguasai, memanfaatkan, mengembangkan ilmu pengetahuan dan teknologi, yang mampu bersaing global.
Misi 1. Menyelenggarakan pendidikan akademik dan profesi dalam bidang teknologi untuk pengembangan ilmu, profesionalisme, dan karakter peserta didik
2. Menyelenggarakan penelitian dasar dan terapan yang berorientasi industri
3. Mendarmabaktikan keahlian dalam bidang teknologi untuk kepentingan masyarakat
4. Merencanakan pengembangan program-program studi yang mendukung kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi
5. Mengelola fakultas teknik secara efektif dan efisien dalam suasana yang bermartabat

AKREDITASI FAKULTAS

INFORMASI BEASISWA

FASILITAS

Bahasa Pengantar Bahasa Indonesia
Fasilitas Fakultas # Fasilitas Laboratorium Program Studi Teknik Mesin

# Fasilitas Laboratorium Program Studi Teknik Elektro

# Fasilitas Laboratorium Progam Studi Teknik Industri

Program Studi

Nama Jurusan Teknik Mesin Akreditasi : A Jenjang Pendidikan :
Nama Jurusan Teknik Elektro Akreditasi : A Jenjang Pendidikan :
Nama Jurusan Teknik Industri Akreditasi : B Jenjang Pendidikan :
Akademi :     Diploma :     Sarjana : 3     Magister :     Doktorat :